Tantangan
Setiap perusahaan punya cerita yang sama soal arsip. Dokumen tersimpan di folder bersama, laptop pribadi, lampiran email, dan aplikasi chat, dengan penamaan yang bergantung pada kebiasaan masing-masing orang: final, final_baru, final_fix, dan seterusnya. Saat sebuah dokumen dibutuhkan, misalnya untuk audit, tender, atau pemeriksaan, mencarinya bisa berarti bertanya dari satu orang ke orang lain dan menunggu yang bersangkutan membuka laptopnya.
Di balik itu ada tiga masalah yang lebih dalam. Pertama, arsip fisik dan arsip digital berjalan sendiri-sendiri: perusahaan menyimpan dokumen kertas dalam kotak, tetapi tidak ada indeks digital yang menghubungkan lokasi kotak dengan isi dokumennya. Kedua, tidak ada yang memantau masa berlaku dokumen legal dan perizinan, sehingga kedaluwarsa baru diketahui setelah menimbulkan masalah. Ketiga, alat yang dipakai terfragmentasi: penyimpanan di satu aplikasi, pengiriman dokumen di aplikasi lain, pembayaran dan pencatatan entah di mana. Arsip yang tidak bisa dicari dan tidak terpantau masa berlakunya sama saja dengan arsip yang hilang, hanya bentuknya lebih rapi.